DSS dan Metode SAW

Ringkasan

Decision Support System (DSS) / Sistem Pendukung Keputusan (SPK) adalah sistem berbasis komputer yang membantu manusia/organisasi mengambil keputusan memakai data, model, dan metode analisis — bukan menggantikan pengambil keputusan, melainkan memberi informasi, analisis, dan rekomendasi yang terstruktur. Metode yang dibahas BKPM: SAW (dikerjakan penuh lewat dua contoh), plus AHP, TOPSIS, WP, MOORA, SMART, Profile Matching, PROMETHEE (disebut saja). Alur SAW: Alternatif → Kriteria → Bobot → Normalisasi → Nilai akhir → Ranking.


Konsep Kunci

1. Komponen utama SPK

KomponenFungsi
DataMenyimpan data untuk pengambilan keputusan
Model/MetodeMengolah dan menganalisis data
Basis PengetahuanMenyimpan aturan / informasi pendukung
User InterfaceMedia interaksi pengguna–sistem
Pengguna / Decision MakerTetap menentukan keputusan akhir

2. Benefit vs cost

  • Benefit: makin besar makin baik (misal nilai investasi, daya dukung). Normalisasi: .
  • Cost: makin kecil makin baik (misal harga). Normalisasi: .
  • Salah menetapkan jenis = ranking terbalik; ini titik paling rawan.

3. Alur 5 tahap SAW (BKPM)

  1. Tentukan alternatif dan kriteria.
  2. Tentukan bobot tiap kriteria + jenisnya (benefit/cost).
  3. Normalisasi matriks keputusan (rumus di atas; = rating ternormalisasi alternatif pada atribut ).
  4. Hitung nilai preferensi: .
  5. Ranking: terbesar = alternatif terpilih.

Transclude of excalidraw/flowchart-saw-ranking.excalidraw

4. Keterbatasan

Hasil sangat bergantung pada ketepatan penentuan kriteria, bobot, jenis benefit/cost, dan kualitas data. Bobot subjektif pengambil keputusan langsung menggeser pemenang.


Contoh (dengan perhitungan)

Contoh 1 — Kepala UPT TIK (semua benefit, )

Kriteria: C1 wawasan SI, C2 praktik jaringan, C3 kepribadian, C4 agama. Bobot . Alternatif: A1 Indra, A2 Roni, A3 Putri, A4 Dani, A5 Ratna, A6 Mira.

Matriks (C1–C4): Indra [70, 50, 80, 60]; Roni [50, 60, 82, 70]; Putri [85, 55, 80, 75]; Dani [82, 70, 65, 85]; Ratna [75, 75, 85, 74]; Mira [62, 50, 75, 80]. Maks kolom: 85, 75, 85, 85.

Normalisasi (contoh Indra): .

Nilai preferensi (hitung ulang terverifikasi):

  • V1 Indra
  • V2 Roni
  • V3 Putri
  • V4 Dani
  • V5 Ratna ← pemenang
  • V6 Mira

Contoh 2 — Investasi SIP (, campuran)

Alternatif: A1 mobil box, A2 tanah gudang, A3 maintenance TI, A4 produk baru. Bobot . Jenis: C1 harga = cost; C2 nilai investasi = benefit; C3 daya dukung = benefit; C4 prioritas (1 sangat → 3 cukup) = cost; C5 ketersediaan = benefit.

Data: A1 [150, 15, 2, 2, 3]; A2 [500, 200, 2, 3, 2]; A3 [200, 10, 3, 1, 3]; A4 [350, 100, 3, 1, 2]. Min C1 , maks C2 , maks C3 , min C4 , maks C5 .

Normalisasi (contoh A3): .

Nilai preferensi:

  • V1
  • V2
  • V3 ← pemenang (maintenance TI)
  • V4

Keterkaitan

  • Mandiri terhadap dua halaman fuzzy (tidak ada prasyarat hitungan fuzzy).
  • Jembatan konseptual: output tegas FIS (misal FIS Tsukamoto–Sugeno) dapat menjadi salah satu kriteria/skor input DSS; DSS menggabungkan banyak kriteria berbobot menjadi ranking.