Jaringan Saraf Tiruan (JST/ANN) adalah sistem pemroses informasi yang meniru cara kerja otak manusia, umum dipakai untuk klasifikasi: belajar dari data masa lalu lalu memberi keputusan atas data yang belum pernah dilihat. LVQ (Learning Vector Quantization) adalah salah satu jenis JST untuk klasifikasi pola — tiap unit output mewakili satu kategori, dan keputusan diambil dari prototype (vektor bobot) yang jaraknya terdekat ke vektor masukan. Selama pembelajaran terawasi, prototype pemenang (dan runner-up bila jaraknya hampir sama) digeser mendekat bila benar atau dijauhkan bila salah.
Pemrosesan tiap neuron: cari jarak terdekat antara vektor masukan dan vektor bobot (prototype) yang bersangkutan.
Kelebihan: selain jarak terdekat, unit output diposisikan ulang lewat update bobot terawasi untuk mempertajam keputusan klasifikasi.
Ide pengembangan algoritma: bila input berjarak hampir sama ke vektor pemenang (winner) dan runner-up, maka keduanya harus belajar (keduanya di-update).
Catatan sumber: BKPM merujuk langkah algoritma pelatihan LVQ menurut Fausett (1994) dan menampilkan gambar step-by-step serta arsitektur, tetapi teks hasil ekstraksi tidak memuat isi langkah-langkahnya (halaman gambar), jadi detail iterasi per epoch tidak dikutip di sini.
4. Arsitektur + alur training vs testing
Arsitektur: vektor input x=(x1,x2,x3,x4) → dihitung jarak Euclidean ke tiap prototype Wj → unit dengan ∣∣x−Wj∣∣ minimum menang → kelas = kelas prototype pemenang.
Training (terawasi, contoh BKPM: epoch 1, α=0,1, 2 kelas C1/C2): untuk tiap data latih, cari winner; bila kelas winner = kelas data, dekatkan prototype (W+=α(x−W)); bila salah, jauhkan (W−=α(x−W)).
Testing: hitung jarak ke semua prototype final, pilih yang terdekat — tanpa update bobot.
Contoh (dengan perhitungan)
Data latih (10 baris Iris, dari BKPM)
No
X1
X2
X3
X4
Kelas
1
5,1
3,5
1,4
0,2
Iris-setosa (C1)
2
4,9
3,0
1,4
0,2
Iris-setosa (C1)
3
4,7
3,2
1,3
0,2
Iris-setosa (C1)
4
4,6
3,1
1,5
0,2
Iris-setosa (C1)
5
5,0
3,6
1,4
0,2
Iris-setosa (C1)
6
7,0
3,2
4,7
1,4
Iris-versicolor (C2)
7
6,4
3,2
4,5
1,5
Iris-versicolor (C2)
8
6,9
3,1
4,9
1,5
Iris-versicolor (C2)
9
5,5
2,3
4,0
1,3
Iris-versicolor (C2)
10
6,5
2,8
4,6
1,5
Iris-versicolor (C2)
Data uji
No
X1
X2
X3
X4
Kelas
A
5,6
2,5
3,9
1,1
??
B
5,1
3,8
1,6
0,2
??
Cara mengerjakan (tugas training + testing)
Inisialisasi 2 prototype (misal W1 dari data setosa, W2 dari data versicolor), α=0,1, epoch = 1.
Tiap data latih: hitung dj=∣∣x−Wj∣∣=∑i(xi−Wji)2 untuk j=1,2; winner = jarak minimum.
Update winner: benar → Wbaru=Wlama+0,1(x−Wlama); salah → Wbaru=Wlama−0,1(x−Wlama).
Setelah epoch selesai, uji A dan B: hitung jarak ke W1,W2 final. Secara intuitif (ciri petal kecil vs besar): B (petal 1,6/0,2) dekat ke setosa → C1; A (petal 3,9/1,1) dekat ke versicolor → C2. Kepastian menunggu hitungan dengan bobot hasil training.
Keterkaitan
Mandiri: tidak bergantung pada halaman smoothing; keduanya dari satu sumber tetapi topik terpisah (klasifikasi vs prediksi deret waktu).